
Kabut asap di Sumbar semakin mengkhawatirkan bahkan sudah melebihi ambang batas baku mutu, seperti di Pasaman Barat. Masyarakat diharapkan mewaspadai penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan sebaiknya memakai masker.
Hal itu terungkap dari rapat koordinasi siaga darurat Pemprov Sumbar di lantai II kantor Gubernur Sumbar, Selasa (25/2). Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumbar memantau saat ini kondisi udara di Pasaman Barat sudah melebihi ambang batas baku mutu. Sedangkan, untuk Bukittinggi, Sijunjung dan Dharmasraya sedang dilakukan penelitian.
“Saat ini kita sudah turunkan tim untuk memantau kondisi udara di Bukittinggi, Sijunjung dan Dharmasraya. Sementara di Pasaman Barat sudah melebihi, namun secara keseluruhan di Sumbar belum membahayakan,” ungkap Kepala Kasubid Konservasi Lingkungan Bapedalda Sumbar, Zulkifli.
Dikatakannya, secara teknis batas ambang baku mutu udara itu maksimal hanya 150,ug/m3, sementara hasil panelitian dari Bapedalda Sumbar, kondisi cemaran udara di Pasbar mencapai 150.71 ug/m3.
“Kita sekarang sudah menurunkan tim untuk memantau didaerah lainnya,”sebut Zulkifli.
Dengan tercemarnya udara tersebut, dikawatirkan dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Terutama meningkatnya pasien Ispa di sejumlah rumah sakit. “Sampai saat ini kita memang sudah menerima laporan kenaikan jumlah pasien ispa di rumah sakit Pariaman, hanya saja kita belum pastikan apakah kenaikan jumlah pasien tersebut akibat kabut asap atau bukan,”kata Kasi Bencana Dinas Kesehatan Sumbar, Indra Veri.
Dikatakannya, saat ini Dinas Kesehatan sudah menyiapkan sebanyak 10 ribu masker untuk mengantisipasi meningkatnya ketebalan kabut asap dari Riau. Selain itu juga sudah melakukan koodinasi pada seluruh rumah sakit milik Pemprov. Apakah sudah ada peningkatan penderita Ispa.
“Kita sudah siapkan antisipasi,”kata Indra.
Sementara itu, potensi asap sudah mulai berkurang karena hujan akan segara turun. Karena adanya angin berhembus dari arah Utara ke Selatan, dari Riau ke Sumbar. Khusus jarak pandang Riau sudah mencapai 500 meter, sedangkan Sumbar masih di atas 1000 meter. Sampai saat ini belum ada permintaan penundaan kedatangan maupun keberangkatan pesawat dari dan ke Sumbar.
“Jadi berdasarkan laporan tadi, belum ada permintaan penundaan penerbangan. Artinya untuk penerbangan masih aman. Termasuk untuk pelayaran serta angkutan darat, tidak belum ada gangguan akibat kabut asap,”sebut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Yazid Fadli.
Katanya, khusus akibat kabut asap itu, saat ini Sumbar belum menetapkan siaga darurat atas kabut asap. Karena secara umum, asap belum menganggu aktfitas masyarakat. Dari laporan SKPD, Perhubungan, Dinas Pertanian, Perkebunan belum ada yang membahayakan.
Dari laporan Dinas Kehutanan Sumbar, saat ini titik api (hotspot) di Sumbar sudah mencapai 90 titik. Kebaradaannya tersebut, dan lebih banyak pada daerah Pessir Selatan, Dharmasaraya, Sijunjung, Solok dan Solok Selatan.
Rapat tersebut memutuskan belum mengeluarkan penetapan siaga darurat kabut asap, namun menghimbau masyarakat untuk mengurangi pembakaran. Terutama masyarakat yang memiliki ladang karena berpotensi untuk menambah ketebalan asap. (harian singgalang)







