infoSumbar
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • EKONOMI & BISNIS
    • TEKNO & SAINS
    • PENDIDIKAN
    • OLAHRAGA
  • SUMBAR
    • PADANG
    • SOLOK RAYA
    • AGAM – BUKITTINGGI
    • PARIAMAN LAWEH
  • GAYA HIDUP
    • OTOMOTIF
    • MUSIK
    • HIBURAN
    • KOMUNITAS
    • KULINER
    • WISATA
    • KESEHATAN
  • SERBA SERBI
    • BUDAYA & SENI
    • FOTO
    • PROFIL
    • EVENTS
      • SEMINAR
      • SENI & BUDAYA
      • LOMBA
      • MUSIK
    • VIDEO
    • DIREKTORI
  • ARTIKEL
  • INFOSUMBARPEDIA
  • LOWONGAN KERJA
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • EKONOMI & BISNIS
    • TEKNO & SAINS
    • PENDIDIKAN
    • OLAHRAGA
  • SUMBAR
    • PADANG
    • SOLOK RAYA
    • AGAM – BUKITTINGGI
    • PARIAMAN LAWEH
  • GAYA HIDUP
    • OTOMOTIF
    • MUSIK
    • HIBURAN
    • KOMUNITAS
    • KULINER
    • WISATA
    • KESEHATAN
  • SERBA SERBI
    • BUDAYA & SENI
    • FOTO
    • PROFIL
    • EVENTS
      • SEMINAR
      • SENI & BUDAYA
      • LOMBA
      • MUSIK
    • VIDEO
    • DIREKTORI
  • ARTIKEL
  • INFOSUMBARPEDIA
  • LOWONGAN KERJA
No Result
View All Result
infoSumbar
No Result
View All Result

Budaya Mentawai : “Tato sebagai Simbol Budaya”

20 Juni 2015 - 09:41 WIB
in Sumbar
NewsRoomby NewsRoom
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsappBagikan ke Twitter
Budaya Mentawai : “Tato sebagai Simbol Budaya”

i4

 

 

 

 

IKLAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan kabupaten kepulauan yang terletak memanjang di bagian paling Barat pulau Sumatera dan dikelilingi oleh Samudera Hindia.

Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari serangkaian pulau non-vulkanik, dan gugus kepulauan itu merupakan puncak-puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut.

Suku Mentawai sebagai penduduk utama di kabupaten ini, secara garis besar masyarakat ini tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang asal usul mereka, walaupun ada di antara mereka mengenal beberapa mitologi yang kadang agak kabur dan sukar dipercaya.

Sebagian besar penghuni pulau-pulau di kabupaten Kepulauan Mentawai berasal dari pulau Siberut. Masyarakat suku Mentawai secara fisik memiliki kebudayaan agak kuno yaitu zaman neolitikum. Masyarakat ini tidak mengenal teknologi pengerjaan logam, begitu pula bercocok tanam maupun seni tenun.

Penduduk di kabupaten ini separuhnya adalah penganut animisme, kemudian sebagian beragama Kristen dan Islam. Setelah kemerdekaan, masyarakat di kabupaten ini telah membaur dengan suku-suku bangsa lain yang ada di Indonesia terutama setelah kabupaten ini menjadi salah satu daerah transmigrasi. Pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Mentawai berada di Tuapejat, sebelah Utara pulau Sipora.

Arat Sabulungan

Berbicara mengenai budaya Mentawai, tidak bisa terlepas dari Arat Sabulungan. Arat Sabulungan merupakan sistem yang mengatur masyarakat Mentawai yang mencakup pengetahuan, nilai, dan aturan hidup yang dipegang kuat dan diwariskan turun-temurun.

Contohnya, tidak boleh menebang pohon sembarangan tanpa izin panguasa hutan (taikaleleu), perintah untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, melakukan persembahan kapada roh nenek moyang, dan sebagainya.

Arat Sabulungan berasal dari kata sa (se) atau ‘sekumpulan’, dan bulung yang artinya ‘daun’. Jadi, Arat Sabalungan adalah sekumpulan daun yang dirangkai dalam lingkaran terbuat dari pucuk enau atau rumbia yang diyakini memiliki tenaga gaib (kere).

BACA JUGA :   BI Sumbar Gelar Capacity Building Wartawan, Bahas Ekonomi Daerah dan Digitalisasi Pembayaran

Arat Sabalungan dipakai sebagai media pemujaan Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (roh hutan dan gunung), dan Tai Ka Manua (roh awang-awang).

Disamping itu, Arat Sabulungan selalu digunakan pada saat upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan penatoan.

Tato sebagai simbol budaya

Seperti suku Dayak Iban, Dayak Kayan, Bali dan sebagainya, suku Mentawai memiliki tato tradisional yang eksotik, bukan hanya untuk sensasi dan kesenangan belaka, melainkan sangat sarat dengan berbagai makna.

Seorang sikerei (dukun budaya) lalu bercerita mengenai pembuatan tato khas Mentawai. Tato, mereka menyebutnya titi, adalah salah satu bagian dari ekspresi seni dan perlambang status orang dari Suku Mentawai. Dulu, tato populer di kalangan baik lelaki maupun perempuan Mentawai yang telah dewasa. Kini, hanya sebagian kecil suku Mentawai yang masih bertato. Sebagian dari mereka bisa ditemui di pedalaman Pulau Siberut.

Tato dibuat oleh seorang sipatiti (pembuat tato). Proses pembuatan tato memakan waktu yang lama, terutama pada tahap persiapannya yang bisa sampai berbulan-bulan. Ada sejumlah upacara dan pantangan (punen) yang harus dilewati oleh orang yang ingin ditato. Tak semua orang sanggup melewati tahap ini.

Sebelum sipatiti mulai membuat tato, ada ritual upacara yang dipimpin oleh sikerei (dukun budaya Mentawai). Tuan rumah lalu mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Daging babi dan ayam ini juga sebagai upah yang diberikan untuk sikerei. Tutulu bercerita bahwa ntuk menyelenggarakan pesta membuat tato ini saja bisa menghabiskan biaya sekitar lima juta rupiah.

BACA JUGA :   Tol Padang–Sicincin Tergenang, Petugas PJR Pastikan Arus Aman Terkendali

Jarum yang digunakan terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Dengan mengetok-ngetoknya, terciptalah garis-garis yang merupakan motif utama tato suku Mentawai. Pewarna yang digunakan berasal dari arang yang menempel di kuali. Sikerei yang merupakan kakaknya Tutulu berkata bahwa biasanya pembuatan tato dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki lalu tubuh. Selama beberapa hari, kulit yang baru ditato akan bengkak dan mengeluarkan darah. Membayangkannya saja saya ngeri.

Konon, tato Mentawai termasuk seni tato tertua di dunia, bahkan lebih tua dari tato Mesir. Sayangnya, kini hanya sebagian kecil saja suku Mentawai yang masih mempertahankannya. Hal ini akibat adanya larangan Pemerintah terhadap berkembangnya ajaran animisme di masa lalu. Tato adalah salah satu produk budaya yang kemudian perlahan menghilang. Ratusan motif tato yang pernah menghiasi penduduk asli Mentawai pun tidak sempat terdokumentasi. Bahkan Tutulu yang kami kenal pun, menghiasi tubuhnya dengan tato gambar bunga dan jangkar yang jelas bukan motif asli tato Mentawai.

Fungsi Tato
Dalam adat suku Mentawai, tato memiliki beberapa fungsi, antara lain

Jati Diri, Status Sosial atau Profesi
Seorang pemburu memilki tato bergambar hewan buruannya, seperti babi, rusa, kera, burung, atau buaya. Berbeda dengan tato yang dimiliki oleh seorang dukun, yang bergambar bintang sibalu-balu. Berbeda pula dengan seorang yang ahli bertarung dan sebagainya.

Simbol Keseimbangan Alam
Suku Mentawai sangat menghormati alam karena mereka hidup berdampingan dengan alam. Oleh karena itu, mereka sangat memperhatikan keseimbangan alam. Hal itu diekspresikan dengan tato yang bergambar pohon, matahari, hewan, batu, dan sebagainya.

BACA JUGA :   Jalan Padang–Bukittinggi Lumpuh Total di Depan Pemandian Mega Mendung Lembah Anai

Keindahan
Suku Mentawai juga terkenal dengan masyarakatnya yang memiliki citra seni tinggi. Hal ini dapat dilihat dari aneka kerajinannya yang sudah dikenal ke mancanegara.

Tidak heran bila mereka menjadikan tato sebagai media untuk mengekspresikan keindahan. Berbagai macam gambar menghiasi tubuh mereka sesuai dengan kreativitas, seperti berbagai alat perang, daun beraneka motif, dan lain-lain.

Prosesi Penatoan

Anak laki-laki yang sudah menginjak usia 11-12 tahun (sudah akil balig) oleh orang tuanya akan dipanggilkan dukun (sikerei) dan kepala suku (rimata). Mereka merundingkan waktu pelaksanaan penatoan.

Bila sudah disepakati hari dan bulannya, akan dipanggilkan Sipatiti (pembuat tato). Jasa pembuatan tato akan dibayar dengan seekor babi.

Prosesi penatoan dimulai dengan punen enegat atau upacara inisiasi yang dipimpin dukun sikerei. Bertempat di puturukat (tempat khusus penatoan milik sipatiti).

Penatoan dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki, lalu ke seluruh tubuh. Pertama-tama, badan si anak dibuatkan gambar sketsa dengan menggunakan lidi. Setelah itu, dimasukkan zat pewarna ke dalam lapisan kulit dengan cara menusukkan jarum sambil dipukul perlahan.

Jarum yang digunakan terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Adapun pewarna yang digunakan adalah campuran arang tempurung kelapa dan daun pisang. Setelah pewarna tadi masuk ke lapisan kulit, selesailah penatoan. Bahan pewarna tadi akan terserap permanen di kulit si bocah.

Bila sudah selesai, orang tua si bocah yang ditato akan mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Daging babi dan ayam ini juga sebagai upah yang diberikan untuk sikerei.

Mentawaikab.go.id/Iroi

Tags: Mentawaitato mentawai

Related Posts

Irjen Gatot Tri Suryanta: Tidak Ada Libur, Seluruh Personel Dikerahkan Tangani Banjir

Irjen Gatot Tri Suryanta: Tidak Ada Libur, Seluruh Personel Dikerahkan Tangani Banjir

29 November 2025
PT Semen Padang Serahkan Bantuan Penanganan Bencana Senilai Rp210 Juta  ke Gubernur Sumbar

PT Semen Padang Serahkan Bantuan Penanganan Bencana Senilai Rp210 Juta ke Gubernur Sumbar

29 November 2025
Banjir Tak Kunjung Surut, Ratusan Warga Padang Pariaman Masih Berada di Pengungsian

Banjir Surut, Ratusan Pengungsi di Kampung Gelapung Sudah Kembali ke Rumah

29 November 2025
Polda Sumbar Terima Bantuan Logistik untuk Penanganan Bencana

Polda Sumbar Terima Bantuan Logistik untuk Penanganan Bencana

29 November 2025
Inilah Detik-Detik Rem Blong, Truk CPO Sebabkan Kecelakaan Beruntun Libatkan 10 Kendaraan di Panorama II Padang

Inilah Detik-Detik Rem Blong, Truk CPO Sebabkan Kecelakaan Beruntun Libatkan 10 Kendaraan di Panorama II Padang

29 November 2025
Tujuh Jenazah Korban Banjir Bandang Padang Panjang Kembali Ditemukan di Aliran Sungai Kayutanam

Tujuh Jenazah Korban Banjir Bandang Padang Panjang Kembali Ditemukan di Aliran Sungai Kayutanam

29 November 2025

Berita Terkini

  • All
  • Berita Pilihan
  • Nasional
  • Sumbar

Irjen Gatot Tri Suryanta: Tidak Ada Libur, Seluruh Personel Dikerahkan Tangani Banjir

PT Semen Padang Serahkan Bantuan Penanganan Bencana Senilai Rp210 Juta ke Gubernur Sumbar

Banjir Surut, Ratusan Pengungsi di Kampung Gelapung Sudah Kembali ke Rumah

Polda Sumbar Terima Bantuan Logistik untuk Penanganan Bencana

Inilah Detik-Detik Rem Blong, Truk CPO Sebabkan Kecelakaan Beruntun Libatkan 10 Kendaraan di Panorama II Padang

Tujuh Jenazah Korban Banjir Bandang Padang Panjang Kembali Ditemukan di Aliran Sungai Kayutanam

Berita Populer

  • Berikut Nama nama Korban Banjir Bandang di Jembatan Kembar Padang Panjang yang Telah Berhasil Dievakuasi

    Berikut Nama nama Korban Banjir Bandang di Jembatan Kembar Padang Panjang yang Telah Berhasil Dievakuasi

    794 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Sejumlah Daerah di Sumbar Dilanda Banjir dan Tanah Longsor, Tiga Wilayah Ini Terparah

    508 shares
    Share 203 Tweet 127
  • Masih Dihantam Hujan, Masyarakat Sumbar Wajib Perketat Kewaspadaan

    493 shares
    Share 197 Tweet 123
  • Makin Parah! Hujan Tiada Henti Mengguyur Sumbar hingga Saat ini

    491 shares
    Share 196 Tweet 123
  • Empat Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Sitinjau Lauik, Satu Terjun ke Jurang Saat Hujan Lebat

    487 shares
    Share 195 Tweet 122
  • Contact
  • Redaksi
  • Visi dan Misi
  • Contact Us
  • About Us
  • Pedoman Media Siber

Website ini diterbitkan oleh PT Infosumbar Media Kreasi | © 2010 - 2022

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • EKONOMI & BISNIS
    • TEKNO & SAINS
    • PENDIDIKAN
    • OLAHRAGA
  • SUMBAR
    • PADANG
    • SOLOK RAYA
    • AGAM – BUKITTINGGI
    • PARIAMAN LAWEH
  • GAYA HIDUP
    • OTOMOTIF
    • MUSIK
    • HIBURAN
    • KOMUNITAS
    • KULINER
    • WISATA
    • KESEHATAN
  • SERBA SERBI
    • BUDAYA & SENI
    • FOTO
    • PROFIL
    • EVENTS
      • SEMINAR
      • SENI & BUDAYA
      • LOMBA
      • MUSIK
    • VIDEO
    • DIREKTORI
  • ARTIKEL
  • INFOSUMBARPEDIA
  • LOWONGAN KERJA

Website ini diterbitkan oleh PT Infosumbar Media Kreasi | © 2010 - 2022